Siapa yang tidak mengetahui mengenai kejadian fenomenal Ketua Dewan Perwakilan Rakyat kita, Setya Novanto yang menabrak tiang listrik hingga ia harus dirawat? Kejadian ini memantik berbagai reaksi dari masyarakat Indonesia, terkhusus yang akan disoroti adalah netizen alias warganet Indonesia. Beragam komentar, postingan, hingga meme –cuplikan gambar dari acara televisi, film, atau gambar-gambar buatan sendiri yang dimodifikasi dengan menambahkan tulisan untuk tujuan melucu dan menghibur—mengenai ‘Papa Setnov’ bermunculan. Dari wajahnya yang benjol sebesar bakpau, lelucon mengenai mobilnya, hingga muncul akun twitter yang mengaku sebagai tiang listrik yang ditabrak. Gelombang aktivisme masyarakat di media sosial melalui meme menjadi temuan yang menarik untuk didiskusikan. Apakah meme dapat menjadi saluran aspirasi bagi masyarakat? Ataupun dapat menjadi saluran efektif yang akan dimanifestasikan dalam bentuk gerakan masyarakat offline?
Berita
Shiela Mutia Larasati, Hariz Ghifari, Ashari Ariya, Harri Songko, dan Achmad Farizi adalah lima mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisipol yang berhasil meraih penghargaan bergensi di ajang Plural+2017. Ajang tersebut diselenggarakan oleh International Organization of Migration (IOM) dan United Nations Alliance of Civilizations. Sheila yang ditemui pada 3 Desember lalu membenarkan hal tersebut. Ia dan teman-temannya berhasil menyabet penghargaan dalam kategori International Jury usia 18 – 25 tahun Plural+ 2017 Youth Video award.
Sekretariat Fisipol bekerjasama dengan Career Development Center kembali menyelenggarakan agenda Soft Skill Mastering bagi civitas akademika Fisipol. Kali ini, tema yang diangkat adalah Training Master of Ceremony (MC). Kegiatan yang diselenggarakan pada Rabu-Kamis (29-30/11) ini mengundang Ninda Nindiani, MA sebagai trainer dari First Step Training & Consulting.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh Fisipol yang dirasa memiliki banyak MC potensial. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kesempatan dimana para civitas menjadi MC di berbagai acara. Untuk mematangkan potensi tersebut, soft skill mastering ini diadakan.
Institute of International Studies (IIS) UGM pada Senin-Selasa (27-28/11) menyelenggarakan workshop bertajuk “Changing the Game – Geospatial Technology for Social and Political Research”. Kegiatan yang mengundang Regina M Hitoyo, ST ini diselenggarakan selama dua hari di Gedung BA 504 Fisipol UGM.
Penggunaan teknologi geospasial tentunya masih asing untuk penelitian mahasiswa sosial politik. Penggunaan sistem pemetaan pertama kali dirintis oleh John Snow. Melalui sistem ini, John Snow mencoba melihat pemetaan kolera dengan overlay yang dilakukan dengan berbagai macam objek semisal bangunan ataupun topografi suatu wilayah. Dari penelitiannya, John Snow menyimpulkan bahwa kolera tersebar dengan pengambilan air yang dilakukan melalui sumber yang sama.
Bertempat di Gedung BB 216 Fisipol UGM, Career Development Center (CDC) kali ini menggelar Pembekalan Magang (30/11). Acara ini menghadirkan Mohammad Genta Mahardika sebagai pembicara utama, serta Matahari Farransahat (akrab disapa Sais) sebagai perwakilan dari CDC untuk menyampaikan materi mengenai pembekalan magang.
Magang sendiri merupakan bagian dari sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan. Bekerja secara langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja yang lebih berpengalaman dalam proses produksi barang dan/ jasa di perusahaan, dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu.
Stratifikasi gender yang menempatkan laki-laki di atas perempuan memaparkannya pada bahaya kekerasan seksual. Linda Sudiono (Dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta) mengungkapkan juga bahwa bahaya ini berakar dari kapitalisme dalam diskusi bertajuk ‘Kampus, Relasi Kekuasaan, dan Kekerasan Seksual’, Selasa (28/11) di Lobby MAP, Fisipol Unit II, Sekip. Ia berpendapat kapitalisme memanfaatkan manusia dan kerjanya sebagai komoditas. Keadaan ini menimbulkan alienasi manusia lain sebagai kompetitor dan objek dalam persaingan.
Prinsip non-intervensi dan kentalnya pola pikir persaingan di ASEAN menyebabkan absennya keselarasan dan kekompakan sepuluh negara di berbagai sektor. Hal ini disampaikan oleh para peneliti ASEAN Studies Center (ASC) dalam diseminasi hasil riset bertajuk “Rethinking the Future of ASEAN Community”, Selasa (28/11).
“Kita bisa melihat bahwa prevalensi penyakit di ASEAN tidak merata. Misalnya, di negara-negara seperti Filipina dan Vietnam, jumlah penyakit dan penderita lebih banyak. Negara-negara lain seperti Singapura dan Malaysia penanggulangannya yang lebih baik,” ungkap Ahmad Rizky M. Umar. Bersama timnya, ia membuat riset mengenai hak universal kesehatan dalam kaitannya dengan integrasi di ASEAN. Terungkap bahwa integrasi ASEAN untuk bidang kesehatan tidak terlihat, terutama di tingkat lokal. “ASEAN pertama kali mengangkat isu kesehatan sebagai isu regional pada tahun 2000-an, saat tren penderita AIDS meningkat. Baru pada tahun 2009, ASEAN menciptakan blue-print mengenai gaya hidup sehat dan kesejahteraan,” kata Umar. Koordinasi lebih banyak dilakukan dengan pemerintah pusat, misalnya dengan membentuk Health Ministerial Meeting sembari mengkategorikan masalah kesehatan menjadi isu keamanan.
Apakah kamu adalah salah satu orang yang masih berpikir pemimpin pasti laki-laki? Mulai sekarang hentikan pemikiran cupet itu. Memang, sebagian besar masyarakat masih mengkonstruksikan seorang pemimpin sebagai sosok yang tegas, cerdas, dan gagah. Dimana sifat-sifat tersebut selalu dikontekskan ada dalam diri laki-laki. Sehingga perempuan yang menduduki singgasana kepemimpinan masih sangat dianggap tabu.
Srikandi Lintas Iman, Jemaat Ahmadiyah Indonesia, dan Departemen Sosiologi melalui seminar yang bertajuk “Memaknai Ulang Peran Dan Kepemimpinan Perempuan” mencoba mendekonstruksi pemikiran-pemikiran tersebut. Bertempat di Gedung BB Lantai 4 Fisipol UGM (25/11), acara ini menghadirkan Dr. Siti Aisyah, M.Pd selaku Pengurus Pusat Lajnah Imailah Jemaat Ahmadiyah Indonesia sebagai keynote speech. Selain itu acara ini juga dihadiri oleh Dr. Nina Mariani Noor selaku Ketua Lajnah Imailah Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Dr. Pdt. Murtini selaku Pendeta LPPS GJK-GKI SW, dan Alifatul Arifiati selaku Direktur Fahmina Institute sebagai pembicara.
Aulia, salah satu presenter di Ruang Grafika, Hotel University Club UGM, menerangkan bahwa dari sekian ratus ribu pengguna internet di Indonesia, 90% hanya digunakan untuk media sosial. Hiburan lebih banyak mendominasi aktivitas daring masyarakat Indonesia, sedangkan era digital yang memberikan peluang produktif belum menjadi prioritas masyarakat.
Fenomena ini merupakan konsekuensi dari apa yang disebut dengan digital divide, atau kemampuan menggunakan teknologi, dan eksistensinya dalam masyarakat Indonesia sangat nyata. Salah satu penyebabnya adalah mindset, rasa takut akan ancaman yang diberikan melalui arus informasi. Disparitas urban-rural juga jadi penyebab utama. Namun, orang yang secara rutin transmigrasi antara daerah rural dan urban berpeluang memainkan peran intermediary untuk membawa kemampuan teknologi (know-how)dari perkotaan ke pedesaan, dengan kata lain, mendomestikasi teknologi di area rural.
Seri One Week One Alumni kembali hadir. Kali ini, One Week One Alumni mengundang Anung Anindita, lulusan Departemen Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM angkatan 1988. Anung saat ini dikenal sebagai praktisi sumber daya manusia di PT Avrist Assurance. Kegiatan ini mengambil tempat di Gedung BA Ruang 103 pada Kamis (23/11) 2017.
Pada pendahuluannya, Anung menjelaskan bahwa setelah ia tamat dari Departemen Ilmu Pemerintahan pada tahun 1993, ia sempat hidup ‘luntang-luntung’. Tidak punya pekerjaan maupun keinginan untuk melanjutkan sekolah ke strata yang lebih tinggi. Kemudian, keinginannya untuk mendalami Ilmu Politik pada studi sosialisme dan komunisme harus ia kubur dalam-dalam ketika ia mendapatkan beasiswa Bank Dunia. Beasiswa ini mengharuskan Anung untuk mengambil jurusan social sciences. Setelah menimbang, Anung memilih untuk mengambil program diploma jurusan ekonomi di The Economics Institute, University of Colorado, Boulder. Setelahnya, Anung melanjutkan studi master ekonominya di University of Colorado Denver yang ia selesaikan pada tahun 1996.