FISIPOL UGM Jadi Tuan Rumah Kongres IV APSI, Hadirkan Menteri Lingkungan Hidup hingga Pakar Akademisi

Yogyakarta, 24 Juli 2026—Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada melaksanakan rangkaian acara hari kedua Kongres IV Asosiasi Pembangunan Sosial Indonesia (APSI) pada Kamis (24/7) di Auditorium Lt. 4 FISIPOL. Mengawali agenda, panggung utama diisi dengan pemaparan keynote speech oleh Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Bapak Mohammad Jumhur Hidayat.

Dalam pidatonya, Bapak Jumhur mengangkat tajuk “Menghidupkan Indikator Lingkungan untuk Pembangunan Sosial: Dari Angka Ekologi Menuju Ketahanan Keluarga, Keadilan, dan Penghidupan Berkelanjutan”. Ia menarik benang merah bahwa kondisi ekologi suatu wilayah sangat menentukan kesejahteraan masyarakatnya. Upaya pembangunan sosial tidak dapat dipisahkan dari pelestarian lingkungan karena keduanya adalah pilar yang saling menopang. Kerusakan ekologis, tegasnya, akan bermuara pada keluarga sebagai unit sosial terkecil, dan dampaknya paling mengancam kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas.

“Menurut saya nanti perlu ditambahkan indikator ketahanan sosial ekologis dalam pembangunan sosial, begitu pula sebaliknya.” Ungkap Bapak Jumhur.

Sebagai penutup pidatonya, Menteri Lingkungan Hidup mendorong agar ke depannya APSI dapat semakin memperkuat kegiatan tri dharma perguruan tinggi yang seutuhnya berpijak pada perspektif sosial-ekologis, seperti melalui pembentukan laboratorium sosial-ekologis dan penyusunan rekomendasi kebijakan yang menyasar ketahanan keluarga.

Setelah pidato utama, agenda dilanjutkan dengan sesi bertajuk “Refleksi Perkembangan Studi dan Praktik Pembangunan Sosial di Indonesia”. Sesi ini dipandu oleh Dra. Widati, Lic.rer.reg., yang menegaskan esensi praktis dari keilmuan ini.

“Pembangunan sosial bukan sekadar ilmu ilmiah, tapi bagaimana ilmu tersebut berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.

Diskusi ini menghadirkan tiga pakar, yakni Prof. Dr. Abdur Rozaki, M.Si. (UIN Sunan Kalijaga), Prof. Drs. Isbandi Rukminto Adi, M.Kes., Ph.D. (Universitas Indonesia), dan Milda Longgeita Br. Pinem., S.Sos., M.A., Ph.D. (Universitas Gadjah Mada). Menyoroti pendekatan pemberdayaan, Prof. Isbandi memaparkan hierarki modal masyarakat. 

“Dalam pembangunan sosial stressing kita adalah human capital, spiritual capital, dan social capital. Ini yang perlu dikuatkan dalam program pemberdayaan,” jelasnya. Menurutnya, ketiga modal dasar tersebut nantinya akan menjadi fondasi untuk mengembangkan financial capital, environmental capital, physical capital, hingga technological capital.

Secara keseluruhan, rangkaian dialog Kongres IV APSI ini mencerminkan langkah konkret akademisi dan praktisi untuk mewujudkan ruang hidup yang inklusif. Sinergi antara pelestarian ekologi, penghapusan kemiskinan, hingga penguatan modal institusi sosial menjadi cerminan nyata dari upaya perwujudan pembangunan yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang. Dialog ini menjadi fondasi penting untuk mengentaskan ketimpangan, merespons krisis iklim, serta membangun kemitraan lintas sektor demi masa depan masyarakat yang tangguh dan berkelanjutan.