Dua Mahasiswa Fisipol UGM Gabung Tim Kembangkan Solusi Sosioteknik Tanggulangi Ancaman Banjir Rob Muara Baru

Yogyakarta, 2 September 2026─Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim Pekan Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) mengembangkan pendekatan sosioteknik untuk menanggulangi ancaman banjir rob di kawasan Muara Baru. Dua di antaranya merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIPOL) UGM, yakni Muhammad Aditya Nugroho Sofyan dan Muhammad Aditya Ibnu Salim. Sedangkan tiga lainnya berasal dari fakultas lain di UGM, yakni Nurul Aliyyah (Fakultas Hukum), Khansa Najla Athaya (Fakultas Teknik), dan Aryo Wicaksono (Fakultas Geografi).

Kelima mahasiswa tersebut dibimbing langsung oleh Nur Azizah, M.Sc., Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM, untuk mengangkat penelitian berjudul “PALANG LAUT: Pemanfaatan Teori Urban Regime untuk Perumusan Model Pendekatan Sosioteknik dalam Penanggulangan Banjir Rob di Kawasan Muara Baru.”

Penelitian ini berangkat dari keresahan tim terhadap ancaman banjir rob yang semakin nyata di kawasan pesisir Jakarta, khususnya Muara Baru. Kenaikan muka air laut yang disertai penurunan muka tanah membuat kawasan tersebut semakin rentan terdampak banjir rob. Persoalan ini menjadi perhatian karena Muara Baru tidak hanya menjadi kawasan permukiman, tetapi juga memiliki aktivitas ekonomi kelautan yang strategis.

“Banjir rob ini kan bukan cuma soal rumah warga yang kebanjiran. Biasanya bisa sampai mengganggu kegiatan ekonomi juga dan bakal berdampak ke aktivitas sehari-hari,” ujar Lia  selaku salah satu anggota Tim Palang Laut.

Kekhawatiran tersebut tidak terlepas dari besarnya dampak yang dapat ditimbulkan dari banjir rob terhadap aktivitas sosial dan ekonomi yang berlangsung di Muara Baru. Di kawasan tersebut terdapat Pelabuhan Perikanan Samudra Nizam Zachman yang dikenal sebagai pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia serta Pasar Ikan Muara Baru yang mencatat omzet sekitar Rp8 hingga Rp10 miliar setiap harinya.

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan melalui wawancara dan pengumpulan data di kawasan Muara Baru, tim Palang Laut menemukan bahwa penanggulangan banjir rob masih belum efektif. Salah satu temuannya, 96% responden masih harus meninggikan rumah secara mandiri untuk menghadapi banjir rob.

Selain persoalan di tingkat masyarakat, tim juga menemukan adanya sejumlah hambatan dalam tata kelola penanggulangan banjir rob. Mulai dari tumpang tindih kewenangan antar instansi, kebijakan yang masih bersifat spasial dan belum terintegrasi, hingga alur birokrasi yang cenderung lambat akibat adanya ego sektoral.

Dari temuan yang didapatkan, persoalan banjir rob ternyata tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan infrastruktur. Ada persoalan sosial dan kelembagaan yang juga perlu diperhatikan, terutama bagaimana masing-masing aktor berkoordinasi dalam menangani kawasan pesisir.

Temuan tersebut kemudian mendorong tim Palang Laut untuk mengembangkan pendekatan sosioteknik sebagai alternatif dalam penanggulangan banjir rob di Muara Baru. Pendekatan ini menggabungkan aspek teknis dengan aspek sosial, kelembagaan, serta daya dukung ekosistem.

Melalui pendekatan tersebut, tim Palang Laut menawarkan sejumlah solusi, di antaranya pengembangan ruang terbuka hijau dan penanaman mangrove berbasis kearifan lokal dengan melibatkan masyarakat. Upaya tersebut diharapkan dapat melengkapi infrastruktur perlindungan pesisir sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam menjaga kawasan tempat tinggal mereka.

Penelitian ini memiliki output berupa artikel ilmiah, policy brief serta rancangan master plan ruang terbuka hijau di kawasan Muara Baru. Master plan tersebut diarahkan untuk memberikan gambaran perencanaan dan pengembangan ruang terbuka hijau yang dapat mendukung upaya penanggulangan banjir rob sekaligus menjadi ruang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Sementara itu, policy brief diharapkan dapat menjadi masukan bagi para pemangku kebijakan dalam mengevaluasi dan merumuskan kebijakan penanggulangan banjir rob yang lebih terintegrasi, khususnya dalam memperkuat koordinasi antarlembaga serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan pesisir.

Penulis: Muhammad Aditya Ibnu Salim