Yogyakarta, 28 Agustus 2026ㅡBerkolaborasi dengan Seoul Women’s University, UN Women, dan KOICA, IIS UGM melangsungkan acara International Conference on the Gender-Responsive Humanitarian, Development, and Peace (HDP) Nexus pada Jumat (28/8). Berlangsung secara hybrid di Auditorium Lantai 4 Fisipol UGM dan daring melalui platform Zoom.

Rangkaian acara hari ini diawali dengan sambutan oleh Ulziisuren Jamsran selaku Perwakilan dan Penghubung untuk ASEAN, UN Women Indonesia. Senada dengan semangat kolaborasi internasional yang diusung, Dr. Hyun Gyung Kim selaku Co-Convenor dari Seoul Women’s University menegaskan bahwa forum ini lebih dari sekadar ajang transfer pengetahuan searah.
“Konferensi ini adalah jalan dua arah. Indonesia dan Korea bertemu di sini bukan sebagai pihak donor dan penerima bantuan, melainkan sebagai dua masyarakat yang saling belajar satu sama lain tentang bencana, perdamaian, dan tentang perempuan yang berjuang bersama,” ungkap Dr. Kim dalam sambutannya.

Sorotan utama dalam sesi pembukaan adalah pemaparan dari Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, yang juga menjadi pembicara dalam sesi seminar. Beliau membagikan kisah inspiratif Ibu Nuraini asal Penatoi, Bima, Nusa Tenggara Barat. Nuraini merupakan seorang perempuan rentan yang hidup di persimpangan berbagai stigma; ia adalah istri kedua dari pria yang tergabung dalam kelompok ekstremisme dan ditelantarkan secara ekonomi. Namun, ia menolak bercerai karena takut akan stigmatisasi janda, sementara di sisi lain ia juga dianggap kafir dan ditolak oleh jaringan radikal suaminya. Meski menyandang banyak label berat, Nuraini berhasil bertransformasi. Berbekal pemahaman mendalam tentang komunitasnya serta konsekuensi ekonomi yang ada, ia kini bangkit menjadi seorang guru taman kanak-kanak.
“Pemberdayaan bukan sekadar ketika seorang perempuan mendapatkan kendali atas hidupnya sendiri. Kepemimpinan dimulai ketika kendali tersebut mampu memperluas ruang gerak dan kendali orang lain. Bagi saya, kisah Nuraini menjelaskan konsep Humanitarian, Development, and Peace (HDP) Nexus dengan jauh lebih baik,” tegas Yenny Wahid.

Memasuki agenda utama, Kim Sun Young (Asisten Manajer dan Spesialis Gender KOICA) memaparkan materi mengenai bagaimana KOICA mengoperasionalkan pendekatan HDP Nexus dalam berbagai program mereka. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi Seminar Pagi yang dipandu langsung Dr. Suci Lestari Yuana dari IIS UGM. Sesi ini menghadirkan Deputi Bidang Koordinasi Pemerataan Pembangunan Wilayah dan Penanggulangan Bencana Kemenko PMK Dr. Lilik Kurniawan, Guru Besar UGM Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, serta Yenny Wahid untuk membedah pendekatan konseptual dari perspektif Indonesia-Korea.
Setelah jeda istirahat siang, konferensi dilanjutkan dengan lima panel tematik paralel yang membahas isu-isu spesifik seperti:
- Mainstreaming Gender Data for Inclusive Development Policies
- Women in Leadership for Preventing and Countering Violent Extremism
- Gender-Responsive Community-Based Resilience Initiatives
- Women Empowerment and Child Protection on the Prevention of Social Conflict — Framework for Women in Crisis
- HDP Nexus Partnership — Indonesia–Republic of Korea Bilateral Cooperation
Acara kemudian ditutup melalui diskusi pleno guna merumuskan rekomendasi kebijakan HDP yang responsif gender bagi kementerian mitra.